Dosen STIH Iblam Aldisa Melissa; Setiap Kita Guru Bagi Sebagian Yang Lain

Potretdepok.com, Depok- Tidak banyak yang tau Aldisa Melissa, Dosen Hukum adat, di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum IBLAM, adalah anak ke 3 dari 4 bersaudara, lahir dari seorang ibu yang merupakan seorang guru SMP di kota Padang sejak tahun 1987.

“Saya terlahir dari Rahim seorang pendidik. Ibu saya adalah seorang guru Sekolah Menengah Pertama sejak Tahun 1987. Saya adalah anak ketiga dari empat orang anak, saya mewarisi bakat dan gen pendidik paling kuat diantara saudara-saudara saya yang lainnya,”ujar Disa, sapaan akrabnya, Minggu (04/04/2021) melalui pesan Whatsapp

Dikatakan Disa, kakak pertamanya menjadi bidan di kota Padang, sedang kakak keduanya bekerja dibidang teknologi pendidikan, dan yang terakhir adiknya bekerja dibidang desain visual,

“Hanya saya yang bergerak dibidang ilmu hukum. Meski saya dibidang ilmu hukum namun saya memilih untuk mengabdi di bidang pendidikan, dan saat ini saya berprofesi sebagai seorang pengajar di salah satu bimbingan belajar kedinasan di Kota padang, juga sebagai dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Iblam,” papar Dosen murah senyum ini


Aldisa menuturkan, pada mulanya dirinya tidak tertarik berprofesi dibidang pendidikan, karena setelah lulus sarjana dari Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala Pada Tahun 2013, ia menginginkan profesi bidang hukum sebagai pengacara.

“Awalnya almarhum papa saya mengarahkan untuk melanjutkan kuliah strata dua di kampus alamamater saya, agar setelah lulus s2 bisa menjadi dosen di sana, namun saya menolak tawaran tersebut dan meminta izin untuk merantau ke Jakarta. Lalu lalang di Jakarta aplly job sana sini dan sempat bekerja sekitar 6 bulan di perusahaan trading hingga pada November 2014 saya bekerja di kantor pengacara Saleh, S.H.,M.H. &partners,”

Menikmati pekerjaan di kantor pengacara perlahan-lahan memperkokoh niatnya untuk menjadi pengacara yang handal, dan Alhamdulillah almarhum Papanya pada waktu itu juga mendukung.

“Namun sebuah kejadian yang saya anggap sebagai titik balik ketika papa saya meninggal pada Februari 2015 membuat saya merasa sendirian dan kebingungan, dan jauh dilubuk hati saya ingin membuat beliau bangga dan berjanji akan mendirikan kantor pengacara hebat, akan tetapi seiring berjalannya waktu saya merasa bahwa saya tak benar-benar berada ditempat kerja, saya tak merasakan jiwa dan semangat yang hidup, seperti ketika mengajar secara sukarela pada sebuah komunitas anak-anak kurang beruntung, dan ketika menjadi relawan pengajar disebuah gerakan bertema pendidikan, hal ini membuat saya bingung dan tidak menikmati lagi pekerjaan,”

Hingga pada hari ketika kakak keduanya menikah, dan memutuskan untuk ikut suami, ibunya hanya seorang diri di rumah. ia merasa tidak konsentrasi dan semakin bingung dengan kondisi yang ada, hingga dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Disa membuat keputusan untuk resign, dan ingin melanjutkan studi s2 saja di kota Padang.

“Saat mempertimbangkan keputusan ini saya teringat akan keinginan almarhum papa saya yang menginginkan saya menjadi dosen, karena menurut beliau saya seseorang yang idealis dan peduli terhadap orang lain. Pada saat itu saya merasakan rangkaian kejadian-kejadian serta kondisi-kondisi yang membuat saya kebingungan untuk mengembalikan saya kepada apa yang sebenarnya saya inginkan dan lakukan dalam hidup,” ujarnya

Disa menambahkan, ketika kembali ke ranah minang pertengahan tahun 2016, ia berencana melanjutkan pendidikan starta dua pada waktu itu juga, tapi menurut nya Allah belum mengizinkan karena ada salah satu syarat yang belum dipenuhi untuk masuk ke salah satu kampus negeri di Sumatera Barat sehingga baru bisa melanjutkan pendidikan pada tahun 2017 sambil memulai pekerjaan sebagai pengajar disalah satu bimbingan belajar kedinasan.

“Alhamdulillah saya bisa menyelesaikan tepat pada waktunya pada Agustus 2019 dengan menghadiahkan gelar lulusan terbaik kepada ibu saya. Setelah lulus saya mencoba memberanikan diri melamar pekerjaan sebagai dosen dibeberapa kampus termasuk mencoba tes CPNS dosen namun karena takdir belum berpihak, saya tidak lulus. Kegagalan tersebut cukup membuat saya terluka, namun saya tak pernah menyerah dengan mimpi dan keyakinan saya untuk menjadi dosen. Saya kembali mencoba melamar kebeberapa kampus hingga saya dipanggil untuk wawancara secara online oleh Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Iblam, tahap demi tahap saya lalui hingga saya dinyatakan diterima sebagai dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Iblam. Apa yang membuat saya bersyukur hingga saat ini adalah Allah memberikan saya perjalanan hidup yang penuh dengan hikmah, untuk sampai pada titik yang sebenarnya saya inginkan dan lakukan dalam hidup,”tutur Dosen penyuka masakan Padang ini

saya harus berjalan dulu ke arah lain, merasakan kebingungan, kesedihan, dilema, dan termasuk perdebatan dengan almarhum papa, tidak pulang pada saat lebaran di tahun 2014. Itu semua cerita yang dirancang Khusus oleh Allah untuk saya. Mengajar dan mendidik memang membuat saya lebih berwarna, hangat dan bersabahat dengan semua situasi dan kondisi. Pengalaman mengajar di kelas menjadikan saya tumbuh sebagai pribadi yang melihat dunia secara luas, karena mengajar sesungguhnya proses pembelajaran tentang memahami harapan, keinginan, dan karakter orang lain, bahwa setiap manusia itu unik dengan kepribadiannya masing-masing. dan yang saya rasakan adalah bahwa sesungguhnya setiap orang adalah guru bagi sebagian yang lain. Bagi saya ketika dikelas saya hanya sebagai fasilitator pembuka pembelajaran setelah itu merekalah yang mengisi ruang ilmu, jika salah tidak masalah, karena dalam belajar di ruang ilmu salah adalah kewajaran bahkan keharusan, dengan kesalahan segala sesuatu bisa diperbaiki bahkan bisa menghasilkan ilmu baru, tutup Aldisa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *