Paltering

Potretdepok.com– Salah satu anugerah Allah kepada umat Nabi Daud adalah keberadaan sebuah batu di dalam Baitul Maqdis yang melayang-layang di udara. Batu tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan kejujuran atau kebohongan seseorang.

Jadi seseorang akan berdiri di bawah batu tersebut, kemudian ia mengucapkan sesuatu. Setelah itu tangannya berusaha menggapai batu tersebut. Apabila ucapannya jujur, dengan sendirinya batu itu mendekat dan berhasil digenggamnya.

Namun apabila ucapannya bohong, secara otomatis pula batu itu akan menjauh dan tidak mungkin digenggamnya. Semua ini terjadi tentu saja dengan izin Allah.

Suatu hari seorang lelaki hendak pergi ke luar kota, dan ia menitipkan sebuah berlian kecil kepada tetangganya. Singkat cerita setelah lelaki itu kembali ke rumah dan ia meminta kembali titipannya itu, sang tetangga justru mengelak.

Tetangganya mengatakan bahwa berlian itu sudah dikembalikan padanya. Tentu saja lelaki ini merasa dikhianati dan ia mengadukan kasus ini kepada Nabi Daud. Seperti biasa, yang melapor dan yang dilaporkan diuji kejujurannya di bawah batu tersebut.

Orang-orang ramai berkumpul untuk menyaksikan kejadian itu. Pertama, sang lelaki dengan lantang berkata,

“Aku belum menerima berlian dari tetanggaku!” Kemudian batu itu turun mendekat dan berhasil digenggamnya.

Kedua, giliran si tetangga yang berdiri di bawah batu. Pada saat itu ia memegang tongkat dan ia meminta tolong sang lelaki untuk memegang tongkatnya terlebih dahulu. Tetangga itu lantas berkata,

“Aku sudah memberikan berlian pada si lelaki dan ia sudah menerimanya!”

Anehnya batu itupun mendekat juga, sehingga si tetangga berhasil menggenggamnya pula. Orang-orang menjadi bingung mengapa tak ada yang berbohong di antara mereka berdua padahal jelas-jelas ucapannya saling berlainan?

Maka Allah mewahyukan kepada Nabi Daud, bahwa tetangganya itu telah memanipulasi kebohongan sedemikian rupa sehingga perkataannya nampak seperti kebenaran.

Rupanya ia menyembunyikan berlian di dalam tongkat. Maka ketika sang lelaki menerima tongkatnya, itu artinya sama saja sang lelaki menerima berliannya sendiri meski tanpa sepengetahuannya.

Kisah ini dituliskan Sayyid Ali bin Hasan Baharun ketika menjelaskan tentang cerita berlian yang disembunyikan yang termaktub pada kitab Ad-Da’wah At-Tammah.

Seni mengelabui orang lain dengan “mengatakan hal yang benar” bahkan punya istilah tersendiri dalam bahasa Inggris yang disebut paltering.

Mengelabui orang lain dengan ”menyatakan hal yang benar” kini sudah jamak di masyarakat. Itu sebabnya muncul istilah baru yang disebut paltering atau kalau diterjemahkan artinya mempermainkan kebenaran.  Umumnya orang berbohong lebih dari satu kali per hari

Hikmah dari kisah tersebut bahwa sejak zaman dahulu orang-orang khianat itu memang sudah ada. Mereka pandai memanipulasi kebohongan bagaimanapun caranya sehingga perbuatan mereka seolah dianggap benar.

Maka sebagai seorang muslim, kita wajib memohon perlindungan kepada Allah agar jangan sampai terjebak dalam tipu daya orang-orang jahat. Mereka bisa membohongi manusia, namun mereka tak akan bisa membohongi Allah.(Mika Pohan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *